Inspirasi dan ide kreatif kadang kala muncul secara tiba tiba, beruntung bila inspirasi itu didokumentasikan. Blog ini saya maksudkan sebagai media komunikasi dengan semua orang yang memerlukan inovasi dalam mendidik manusia menjadi manusia pembelajar. Manusia yang memiliki kecerdasan seimbang antara intelektual, spiritual dan sosial. Mari berbagi! Salam inovasi.
Kamis, 15 Agustus 2013
Selasa, 11 Desember 2012
Dear teman-teman sekolah rumah, berikut ini saya lampirkan
artikel menarik
tentang bagaimana balita belajar mandiri, silahkan
membaca...
Sudah Saatnya Ia Mandiri
Berapa usia si kecil Anda saat ini? Apakah ia sudah memasuki
usia 1-3
tahun? Usia yang kita sebut sedang ‘lucu-lucunya’, karena ia
mulai dapat
berjalan, mulai bereksplorasi dan mulai juga dapat
berbicara.
Banyak
anak juga yang mulai bersekolah pada usia ini. Kedua anak
saya pun,
mulai bersekolah pada waktu mereka berusia 1 tahun. Apakah
ia memang
perlu bersekolah? Bersekolahnya sendiri sebenarnya tidak
apa-apa,
tergantung dari apa yang dipelajari di sekolah tersebut.
Bila sekolah
lebih menekankan pada kemampuan motorik kasar, seperti
berjalan,
berlari, melompat, menyanyi, menari, tentu akan membantu
perkembangan
anak.
Namun
sebenarnya, ada hal yang jauh lebih penting pada masa ini,
yang harus
diselesaikan oleh anak-anak. Cobalah anda alami, si kecil
kita, yang
berusia 1.5 tahun, biasanya ingin sekali makan sendiri.
Mungkin ia senang duduk
dipangkuan kita dan mengambil makanan sendiri dari
piringnya. Bila
keinginan ini dilarang terus menerus, keinginannya untuk
makan sendiri
akan hilang dan akhirnya sampai SD pun ia masih harus
disuapi agar mau
makan.
Anak
kita, yang sudah berusia 1-3 tahun memang mulai ingin
mengerjakan
semuanya sendiri. Mungkin ia bahkan sekarang sedang belajar
untuk
memakai sepatu sendiri. Parasnya tampak amat senang saat ia
berhasil
memasukkan sepatu ke dua kaki kecilnya.
Menurut Erik Erikson, di usia ini, tugas anak yang paling
penting adalah membina
kemandiriannya. Ia sedang mengalami masa Autonomy VS Shame
or Doubt.
Ia memang ingin belajar mengenali kemampuan dirinya sendiri
melalui
hal-hal yang dapat ia kerjakan sendiri. Bila berhasil, anak
akan tumbuh
menjadi anak yang mempunyai rasa self esteem yang baik. Dan
ini adalah
dasar-dasar dari rasa percaya diri.
Banyak
orang tua yang mengikutkan anak pada berbagai lomba, untuk
meningkatkan
percaya diri anak. Namun pernahkah anda perhatikan, ada
berapa orang
yang mengikuti lomba tersebut dan berapa besar kesempatannya
untuk
menang? Rasa
percaya diri terpupuk dari pengalaman keberhasilan yang
kecil-kecil, dan
yang terpenting adalah pujian kita saat anak berhasil
melakukan sesuatu
sendiri.
Bila masa ini gagal, anak akan tumbuh menjadi seseorang yang
pemalu atau
ragu-ragu.
Ia akan selalu bertanya-tanya, apakah ia mampu melakukan
sesuatu. Ini
yang belakangan sering saya temui pada klien saya. Mereka
anak-anak SD
atau SMP yang pandai, ber IQ tinggi, tapi sangat tidak PD
dalam
mengerjakan sesuatu dan tidak mau berusaha.
Ini terjadi karena mereka tidak pernah diberikan kesempatan
untuk melakukan
sesuatu di rumah. Mereka
tidak diperbolehkan melakukan sesuatu yang kecil, dengan
kemungkinan
keberhasilan yang besar, seperti makan sendiri, mandi
sendiri,
membereskan permainan sendiri, dll, namun dituntut untuk
melakukan hal
yang besar, seperti bisa membaca, menulis, berhitung, tampil
di depan
umum dan melakukan hal-hal ‘hebat’ lainnya.
Apakah
kemandirian bisa membuat kita menjadi melupakan orang lain
dan
menganggap kita bisa melakukan segala sesuatunya sendiri?
Sama sekali
tidak. Seseorang yang mandiri dan mempunyai self esteem yang
baik, biasanya
justru tahu, apa yang bisa ia kerjakan sendiri dan kapan ia
harus minta bantuan
orang lain. Selalu ada saat yang tepat untuk belajar, dan
untuk usia ini,
kemandirian adalah fokus belajarnya.
Sumber : ROSDIANA SETYANINGRUM
Sekitar balita kitaDear teman-teman sekolah rumah, berikut ini saya lampirkan artikel menarik tentang bagaimana balita belajar mandiri, silahkan membaca... Sudah Saatnya Ia Mandiri Berapa usia si kecil Anda saat ini? Apakah ia sudah memasuki usia 1-3 tahun? Usia yang kita sebut sedang ‘lucu-lucunya’, karena ia mulai dapat berjalan, mulai bereksplorasi dan mulai juga dapat berbicara. Banyak anak juga yang mulai bersekolah pada usia ini. Kedua anak saya pun, mulai bersekolah pada waktu mereka berusia 1 tahun. Apakah ia memang perlu bersekolah? Bersekolahnya sendiri sebenarnya tidak apa-apa, tergantung dari apa yang dipelajari di sekolah tersebut. Bila sekolah lebih menekankan pada kemampuan motorik kasar, seperti berjalan, berlari, melompat, menyanyi, menari, tentu akan membantu perkembangan anak. Namun sebenarnya, ada hal yang jauh lebih penting pada masa ini, yang harus diselesaikan oleh anak-anak. Cobalah anda alami, si kecil kita, yang berusia 1.5 tahun, biasanya ingin sekali makan sendiri. Mungkin ia senang duduk dipangkuan kita dan mengambil makanan sendiri dari piringnya. Bila keinginan ini dilarang terus menerus, keinginannya untuk makan sendiri akan hilang dan akhirnya sampai SD pun ia masih harus disuapi agar mau makan. Anak kita, yang sudah berusia 1-3 tahun memang mulai ingin mengerjakan semuanya sendiri. Mungkin ia bahkan sekarang sedang belajar untuk memakai sepatu sendiri. Parasnya tampak amat senang saat ia berhasil memasukkan sepatu ke dua kaki kecilnya. Menurut Erik Erikson, di usia ini, tugas anak yang paling penting adalah membina kemandiriannya. Ia sedang mengalami masa Autonomy VS Shame or Doubt. Ia memang ingin belajar mengenali kemampuan dirinya sendiri melalui hal-hal yang dapat ia kerjakan sendiri. Bila berhasil, anak akan tumbuh menjadi anak yang mempunyai rasa self esteem yang baik. Dan ini adalah dasar-dasar dari rasa percaya diri. Banyak orang tua yang mengikutkan anak pada berbagai lomba, untuk meningkatkan percaya diri anak. Namun pernahkah anda perhatikan, ada berapa orang yang mengikuti lomba tersebut dan berapa besar kesempatannya untuk menang? Rasa percaya diri terpupuk dari pengalaman keberhasilan yang kecil-kecil, dan yang terpenting adalah pujian kita saat anak berhasil melakukan sesuatu sendiri. Bila masa ini gagal, anak akan tumbuh menjadi seseorang yang pemalu atau ragu-ragu. Ia akan selalu bertanya-tanya, apakah ia mampu melakukan sesuatu. Ini yang belakangan sering saya temui pada klien saya. Mereka anak-anak SD atau SMP yang pandai, ber IQ tinggi, tapi sangat tidak PD dalam mengerjakan sesuatu dan tidak mau berusaha. Ini terjadi karena mereka tidak pernah diberikan kesempatan untuk melakukan sesuatu di rumah. Mereka tidak diperbolehkan melakukan sesuatu yang kecil, dengan kemungkinan keberhasilan yang besar, seperti makan sendiri, mandi sendiri, membereskan permainan sendiri, dll, namun dituntut untuk melakukan hal yang besar, seperti bisa membaca, menulis, berhitung, tampil di depan umum dan melakukan hal-hal ‘hebat’ lainnya. Apakah kemandirian bisa membuat kita menjadi melupakan orang lain dan menganggap kita bisa melakukan segala sesuatunya sendiri? Sama sekali tidak. Seseorang yang mandiri dan mempunyai self esteem yang baik, biasanya justru tahu, apa yang bisa ia kerjakan sendiri dan kapan ia harus minta bantuan orang lain. Selalu ada saat yang tepat untuk belajar, dan untuk usia ini, kemandirian adalah fokus belajarnya. Sumber : ROSDIANA SETYANINGRUM
Dear teman-teman sekolah rumah, berikut ini saya lampirkan
artikel menarik
tentang bagaimana balita belajar mandiri, silahkan
membaca...
Sudah Saatnya Ia Mandiri
Berapa usia si kecil Anda saat ini? Apakah ia sudah memasuki
usia 1-3
tahun? Usia yang kita sebut sedang ‘lucu-lucunya’, karena ia
mulai dapat
berjalan, mulai bereksplorasi dan mulai juga dapat
berbicara.
Banyak
anak juga yang mulai bersekolah pada usia ini. Kedua anak
saya pun,
mulai bersekolah pada waktu mereka berusia 1 tahun. Apakah
ia memang
perlu bersekolah? Bersekolahnya sendiri sebenarnya tidak
apa-apa,
tergantung dari apa yang dipelajari di sekolah tersebut.
Bila sekolah
lebih menekankan pada kemampuan motorik kasar, seperti
berjalan,
berlari, melompat, menyanyi, menari, tentu akan membantu
perkembangan
anak.
Namun
sebenarnya, ada hal yang jauh lebih penting pada masa ini,
yang harus
diselesaikan oleh anak-anak. Cobalah anda alami, si kecil
kita, yang
berusia 1.5 tahun, biasanya ingin sekali makan sendiri.
Mungkin ia senang duduk
dipangkuan kita dan mengambil makanan sendiri dari
piringnya. Bila
keinginan ini dilarang terus menerus, keinginannya untuk
makan sendiri
akan hilang dan akhirnya sampai SD pun ia masih harus
disuapi agar mau
makan.
Anak
kita, yang sudah berusia 1-3 tahun memang mulai ingin
mengerjakan
semuanya sendiri. Mungkin ia bahkan sekarang sedang belajar
untuk
memakai sepatu sendiri. Parasnya tampak amat senang saat ia
berhasil
memasukkan sepatu ke dua kaki kecilnya.
Menurut Erik Erikson, di usia ini, tugas anak yang paling
penting adalah membina
kemandiriannya. Ia sedang mengalami masa Autonomy VS Shame
or Doubt.
Ia memang ingin belajar mengenali kemampuan dirinya sendiri
melalui
hal-hal yang dapat ia kerjakan sendiri. Bila berhasil, anak
akan tumbuh
menjadi anak yang mempunyai rasa self esteem yang baik. Dan
ini adalah
dasar-dasar dari rasa percaya diri.
Banyak
orang tua yang mengikutkan anak pada berbagai lomba, untuk
meningkatkan
percaya diri anak. Namun pernahkah anda perhatikan, ada
berapa orang
yang mengikuti lomba tersebut dan berapa besar kesempatannya
untuk
menang? Rasa
percaya diri terpupuk dari pengalaman keberhasilan yang
kecil-kecil, dan
yang terpenting adalah pujian kita saat anak berhasil
melakukan sesuatu
sendiri.
Bila masa ini gagal, anak akan tumbuh menjadi seseorang yang
pemalu atau
ragu-ragu.
Ia akan selalu bertanya-tanya, apakah ia mampu melakukan
sesuatu. Ini
yang belakangan sering saya temui pada klien saya. Mereka
anak-anak SD
atau SMP yang pandai, ber IQ tinggi, tapi sangat tidak PD
dalam
mengerjakan sesuatu dan tidak mau berusaha.
Ini terjadi karena mereka tidak pernah diberikan kesempatan
untuk melakukan
sesuatu di rumah. Mereka
tidak diperbolehkan melakukan sesuatu yang kecil, dengan
kemungkinan
keberhasilan yang besar, seperti makan sendiri, mandi
sendiri,
membereskan permainan sendiri, dll, namun dituntut untuk
melakukan hal
yang besar, seperti bisa membaca, menulis, berhitung, tampil
di depan
umum dan melakukan hal-hal ‘hebat’ lainnya.
Apakah
kemandirian bisa membuat kita menjadi melupakan orang lain
dan
menganggap kita bisa melakukan segala sesuatunya sendiri?
Sama sekali
tidak. Seseorang yang mandiri dan mempunyai self esteem yang
baik, biasanya
justru tahu, apa yang bisa ia kerjakan sendiri dan kapan ia
harus minta bantuan
orang lain. Selalu ada saat yang tepat untuk belajar, dan
untuk usia ini,
kemandirian adalah fokus belajarnya.
Sumber : ROSDIANA SETYANINGRUM
Kamis, 13 Oktober 2011
Renald Khasali menulis tentang Pendidikan di Indonesia
Benarkah Makin Berat, Makin Hebat?
oleh Rhenald Kasali*)
Sebagian besar pembaca mungkin dibesarkan dalam kultur ekonomi sulit, sehingga kaya berbagai peribahasa, seperti: hemat pangkal kaya dan rajin pangkal pandai.
Kita bermain layang-layang, menangkap belut,bermain bersama anak-anak kampung
dengan tiada henti canda, tawa,dan keringat.
Bagaimana anak-anak sekarang? Lahan kosong berganti menjadi kebun sawit atau
perumahan mewah.Tak ada lagi lapangan badminton, arena bermain layang-layang dan
air yang mengalir bening. Tapi anak-anak punya mainan baru, Facebook,Twitter,Online Games, warung internet,dan bimbingan belajar.
Pergaulan fisik diganti dunia maya, statistik, dan ilmu berhitung diganti
kalkulator dan software. Dulu kita hanya belajar sembilan mata pelajaran,
sehingga masih banyak waktu untuk bermain. Bagaimana anakanak kita? Bukannya
dikurangi, melainkan semakin hari yang dipaksakan masuk ke dalam otak anak-anak
kita semakin banyak.
Sementara di Selandia Baru dan banyak negara maju anak anak sekolah hanya
mengambil enam mata pelajaran. Ketika mereka menganut spirit ”The Power of
Simplicity”, kita justru tenggelam dalam spirit benang kusut, ”kalau terlalu
mudah, tidak akan melahirkan kehebatan”.
Bukan hanya itu, di banyak negara, selain dirampingkan, mata ajar wajib juga
dibatasi hanya dua, selebihnya dijadikan pilihan yang dikaitkan karier.
Bagaimana di sini? Mata ajar yang banyak itu adalah mata ajar yang ”sakral”,
wajib diambil semuanya. Kesakralan itu sesungguhnya hanya semu, karena mata ajar
agama disamakan dengan berhitung dan sejarah ala kita, yaitu ala hafal-hafalan.
Ubah Cara Pandang
Namun, sewaktu saya bercerita bagaimana sekolah di Belanda, China, dan Selandia
baru,ada juga orangtua yang protes. Mereka tak menginginkan sekolahnya dibuat lebih
mudah. ”Sekolah itu memang harus sulit dan anak-anak harus berjuang”. Saya dapat
mengerti pandangan ini, karena anaknya termasuk cerdas, tuntas semua mata
pelajaran dengan nilai tinggi.
Namun, saya kurang mengerti bagaimana orang tua rela menyita seluruh waktu masa
muda anaknya hanya untuk belajar. Mendidik bukanlah untuk melahirkan orang-orang
yang tahu semua, tapi selalu bertanya, ”Saya harus melakukan apa?” Ini adalah
realita, semakin banyak ditemui orang tak bisa bekerja dengan prioritas.
Saya juga kurang mengerti kalau pendidik kurang memahami bahwa talenta dan
leadership merupakan kunci untuk mencapai keberhasilan hidup.Untuk itulah,
talenta harus diasah, diberi ruang,dan waktu agar ia tumbuh.Leadership maupun
entrepreneurship diasah dari keseharian di luar bangku sekolah. Diuji dalam
interaksi kehidupan.
Tentu saya bertanya-tanya kalau pendidikan kita dibuat lebih ramping, apakah
benar menjadi lebih baik.Saya selalu teringat masa-masa memulai karier sebagai
penguji di program S-3.Saat seorang tua,kandidat doktor diuji, yang mengajukan
pertanyaan ada 13 orang hebat.
Namanya juga orang hebat, pertanyaannya pasti sulit bagi seorang pemula. Tetapi
semua penguji tidak puas, kandidat digoreng ke kiri, di-ongseng ke kanan hingga
nyaris hangus. Di ruang rapat semua menyatakan tidak puas.Sebagai doktor muda
yang baru kembali dari sekolah doktor, saya tak punya suara yang berarti. Saya
hanya bertanya, ”Beginikah cara Bapak-Bapak menguji seorang calon doktor?”
Semua orang terdiam, dan saya pun terkejut dengan pertanyaan saya. Beberapa
orang menatap tajam, karena mereka adalah mantan guru-guru saya dan terkenal di
hadapan publik.Karena malu telah berkata- kata bodoh,saya teruskan saja berkata
jujur. Saya katakan kita harus percaya diri.
Ujian dengan penguji sebanyak ini menunjukkan kita kurang pede.Lagi pula tak ada
yang bisa lulus dengan ujian seperti ini.Semua dosen hanya marah-marah karena
kepintarannya tak dimengerti orang lain, dan memberi saran yang saling
bertentangan. Saya pun mengatakan,andaikan saya yang diuji di sini, saya
beranij amin saya pun tidak akan lulus.
Pertanyaan ujian terlalu luas.Di Amerika Serikat,kita hanya diuji oleh empat
orang pembimbing, dan bila kita bingung, kita tidak dibantai, malah dibantu. Di
SLTA negara-negara maju,jumlah mata ajar memang ramping,tetapi sejak remaja mereka
sudah biasa membuat makalah dengan kedalaman referensi dan terbiasa bekerja
dengan metode ilmiah.
Demikianlah persekolahan kita. Bukannya disederhanakan, justru dibuat menjadi
lebih kompleks. Semua mata ajar kita anggap sakral. Buku ditambah. Subjek
ditambah. Guru juga ditambah. Saya kadang tak habis berpikir, bagaimana kita
bisa menghasilkan kehebatan dari keribetan ini.
Saya tentu tak akan protes kalau dengan sekolah yang ditempa kesulitan ini, kita
bisa pergi ke bulan. Fakta menunjukkan sebaliknya. Tidakkah kita bertanya,
jangan-jangan ada yang tidak beres dengan kurikulum persekolahan kita? Saya juga
bertanya-tanya, akankah anak-anak dididik dengan baik kalau hanya belajar enam
mata pelajaran seperti di Selandia Baru, Denmark, atau negara-negara industri
lainnya?
Namun, fakta yang saya temui ternyata pendidikan yang hanya fokus pada enam mata
pelajaran itu menempatkan pendidikan Selandia Baru terbaik keenam di dunia.Rasanya
di sana juga tak ada siswa yang kesurupan saat ujian, apalagi contekan massal.
Perlukah kita meremajakan cara berpikir kita?
*) RHENALD KASALI Ketua Program MM UI
Kamis, 22 September 2011
Kontradiksi pengalaman hidup
Sulit berinovasi, tapi tak lebih sulit mengubah persepsi.
mudah mengucapkan, namun tak semudah melakukan
gampang merencanakan, hanya saja tak semudah itu untuk melakukan
Siapa yang dapat meramalkan , belum tentu melihat kenyataan
Kawan, adakah hatimu senang melihat dunia yang sedang gamang?
Apakah engkau turut merasakan lingkunganmu yang kini sedang mengerang?
Tiada lagi kesejukan, apa lagi kebersihan , semua penuh kekotoran
Kotornya perilaku pengambil kebijakan, lebih kotor lagi dari comberan
campur aduk antara kepentingan, idealisme dan egoisme
Mereka bukan lagi teladan, tak ada harapan untuk perbaikan
Bangsaku, negriku, akankah nasib mu lebih baik dari era tujuh puluhan?
Entahlah....
mudah mengucapkan, namun tak semudah melakukan
gampang merencanakan, hanya saja tak semudah itu untuk melakukan
Siapa yang dapat meramalkan , belum tentu melihat kenyataan
Kawan, adakah hatimu senang melihat dunia yang sedang gamang?
Apakah engkau turut merasakan lingkunganmu yang kini sedang mengerang?
Tiada lagi kesejukan, apa lagi kebersihan , semua penuh kekotoran
Kotornya perilaku pengambil kebijakan, lebih kotor lagi dari comberan
campur aduk antara kepentingan, idealisme dan egoisme
Mereka bukan lagi teladan, tak ada harapan untuk perbaikan
Bangsaku, negriku, akankah nasib mu lebih baik dari era tujuh puluhan?
Entahlah....
saat ini hari terindah
SAAT TERINDAH Saat-saat dalam hidup ketika kita merindukan seseorang begitu dalam,hingga ingin mengambilnya dari angan-anganmu,lalu memeluknya erat-erat!
Ketika pintu kebahagiaan tertutup, pintu yang lain terbuka;tetapi, seringkali kita memandang terlalu lama pada pintu yang tertutup hingga kita tidak melihat pintu yang lain yang telah terbuka bagi kita. Jangan percaya penglihatan; penglihatan dapat menipu.Jangan percaya kekayaan; kekayaan dapat sirna.Percayalah pada Dia yang dapat membuatmu tersenyum,sebab hanya senyumlah yang dibutuhkan untuk mengubah hari gelap menjadi terang Carilah Dia, yang membuat hatimu tersenyum. Angankan apa yang engkau ingin angankan;pergilah kemana engkau ingin pergi; jadilah seperti yang engkau kehendaki, sebab hidup hanya satu kali dan engkau hanya memiliki satu kesempatan untuk melakukan segala hal yang engkau ingin lakukan.
Semoga engkau punya cukup kebahagiaan untuk membuatmu tersenyum,cukup pencobaan untuk membuatmu kuat,cukup penderitaan untuk tetap menjadikanmu manusiawi, dan cukup pengharapan untuk menjadikanmu bahagia. Mereka yang paling berbahagia tidaklah harus memiliki yang terbaik dari segala sesuatu; mereka hanya mengoptimalkan segala sesuatu yang datang dalam perjalanan hidup mereka. Masa depan yang paling gemilang akan selalu dapat diraih dengan melupakan masa lalu yang kelabu; engkau tidak akan dapat maju dalam hidup hingga engkau melepaskan segala kegagalan dan sakit hatimu. Ketika engkau dilahirkan, engkau menangis sementara semua orang di sekelilingmu tersenyum. Jalani hidupmu sedemikian rupa, hingga pada akhirnya engkaulah satu-satunya yang tersenyum sementara semua orang disekelilingmu menangis.Jangan hitung tahun-tahun yang lewat, hitunglah saat-saat yang indah. Hidup tidak diukur dengan banyaknya napas yang kita hirup; Melainkan dengan saat-saat di mana kita menarik napas bahagia!Inilah hari terindah.
Langganan:
Postingan (Atom)