Kamis, 15 Agustus 2013

dibaca untuk direnungkan



Inilah 1001 Pesan dan motivasi Para Tokoh Dunia

  • Napoleon Bonaparte

    “Persiapan yang berlebihan adalah musuh inspirasi.” Napoleon Bonaparte (1769–1821), jenderal, politikus dan kaisar Prancis (1804–14)

  • William Shakespeare

    “Waktu adalah keadilan yang menguji mereka yang bersalah.” William Shakespeare (1564–1616), pujangga dan dramawan Inggris”

  • Carl Jung

    “Pertemuan dua kepribadian adalah seperti kontak dua substansi kimia: jika ada reaksi, keduanya akan bertransformasi.” Carl Jung (1875–1961), penemu analisis psikologi”

  • Lawrence Clark Powell

    “Menulislah agar dipahami, berbicaralah agar didengar, dan membacalah agar menjadi besar.” Lawrence Clark Powell (1906–2001), pustakawan, penulis, dan kritikus Amerika Serikat”

  • Herbert Spencer

    “Orang bijak harus ingat bahwa dia adalah keturunan masa lalu sekaligus orang tua bagi masa depan.” Herbert Spencer (1820–1903), filsuf sosial asal Inggris”

  • Adam Smith

    “Apa yang bisa ditambahkan kepada orang yang berbahagia, sehat, bebas utang, serta memiliki hati nurani yang bersih?”Adam Smith (1723-1790), filsuf dan ekonom asal Skotlandia”

  • Edward G Bulwer-Lytton

    “Lebih baik punya lima musuh yang energik dan kompeten daripada seorang kawan yang bodoh.” Edward G Bulwer-Lytton (1803-1873), politikus dan kritikus Inggris”

  • Ronaldo

    “Saya tidak pernah berharap diri saya menjadi pemain terbaik dunia. Saya tidak terobsesi dengan penghargaan individu. Saya lebih tertarik menjadi bagian dari sebuah tim yang memenangkan trofi.” Ronaldo, pemain sepak bola asal Brasil”

  • Nido Qubein

    “Pemenang membandingkan prestasinya dengan tujuan mereka, sedangkan pecundang membandingkan prestasinya dengan capaian orang lain.” Nido Qubein, motivator Amerika Serikat”

  • Henri Bergson

    “Untuk eksis harus berubah, untuk berubah harus matang, matang berarti penciptaan diri tanpa henti.” Henri Bergson (1859–1941), filsuf Prancis, peraih Nobel Sastra 1927″

  • Franz Kafka

    “Mulailah dengan apa yang benar, bukan dengan apa yang bisa diterima.” Franz Kafka (1883–1924), penulis Jerman”

  • Robert A Schumann

    “Si talenta bekerja, sang jenius yang menciptakan.” Robert A Schumann (1810–1856), komposer Jerman”

  • Robert T Kiyosaki

    “Sebesar apa sukses Anda diukur dari seberapa kuat keinginan Anda, seberapa besar mimpi-mimpi Anda, bagaimana pula Anda mampu mengatasi kekecewaan dalam hidup Anda.” Robert T Kiyosaki, motivator dan penulis asal Amerika Serikat”

  • Benjamin Franklin

    “Berbuatlah kebaikan terhadap temanmu untuk menjaga mereka dan terhadap lawanmu untuk mengalahkan mereka.” Benjamin Franklin, filsuf dan negarawan Amerika Serikat”

  • Alexis de Tocqueville

    “Ada dua hal yang sangat sulit ditemukan oleh orang-orang penganut paham demokrasi: memulai perang dan mengakhirinya.” Alexis de Tocqueville (1805–1859), sejarawan Prancis”

  • Jawaharlal Nehru

    “Budaya akan memperluas pikiran dan semangat kita.” Jawaharlal Nehru (1889–1964), perdana menteri India”

  • Pythagoras

    “Jangan katakan hal-hal kecil dengan banyak kata-kata, tapi katakanlah sesuatu yang besar dengan sedikit kata.” Pythagoras (580–500 SM), filsuf dan ahli matematika Yunani”

  • Percy Bysshe Shelley

    “Janganlah takut menghadapi masa depan, jangan pula menangis untuk masa lalumu.” Percy Bysshe Shelley (1792–1822), pujangga asal Inggris”

  • Harrison Ford

    “Kita semua memiliki perubahan besar dalam hidup yang kurang lebih seperti kesempatan kedua.” Harrison Ford, aktor Hollywood, Amerika Serikat”

  • Thomas Carlyle

    “Daya tahan adalah kumpulan kesabaran.” Thomas Carlyle (1795–1881), sejarawan Skotlandia”

  • Oscar Wilde

    “Pengalaman adalah nama yang kita berikan untuk kesalahankesalahan di masa lalu.” Oscar Wilde, novelis Irlandia (1854–1900)”

  • Andre Gide

    “Manusia tak bisa menemukan samudera baru sepanjang dia tidak punya keberanian untuk memalingkan pandangan matanya dari pantai.” Andre Gide (1869–1951), penulis Prancis, peraih Nobel Sastra 1947″

  • Otto von Bismarck

    “Orang-orang hebat bisa dikenali melalui tiga hal: murah hati dalam perencanaan, humanis dalam pelaksanaan, dan tidak berlebihan dalam keberhasilan.” Otto von Bismarck (1815–1898), kanselir Jerman”

  • GK Chesterton

    “Ini bukan karena mereka tidak bisa menemukan solusi, tapi karena mereka tidak mampu memahami masalah.” GK Chesterton (1874–1936), kritikus Inggris”

  • CS Lewis

    “Anda tak boleh merasa terlalu tua untuk menetapkan tujuan lain atau merajut mimpi-mimpi baru.” CS Lewis (1898–1963), novelis dan ilmuwan Inggris”

  • Richard Bach

    “Tidak ada bencana yang tidak bisa menjadi berkah dan tidak ada berkah yang tidak bisa menjadi bencana.” Richard Bach , sastrawan Amerika Serikat”

  • Nancy Willard

    “Terkadang pertanyaan lebih penting daripada jawaban.” Nancy Willard, penulis dan pujangga Amerika Serikat”

  • Voltaire

    “Tidak ada orang besar yang tidak menyumbangkan kebesaran pengabdiannya kepada kemanusiaan.” Voltaire (1694–1778), filsuf dan penulis Prancis”


  • Ashleigh Brilliant

    “Ide yang bagus sudah umum, yang tidak umum adalah mereka yang bekerja keras untuk mewujudkan ide tersebut.” Ashleigh Brilliant (1933), pengarang dan kartunis asal Inggris”

  • Carl Gustav Jung

    “Satu-satunya hal yang harus kita takuti di planet ini adalah manusia.” Carl Gustav Jung (1875–1961), psikolog Swiss”

  • Arthur Koestler

    “Keberanian tak pernah membiarkan tindakan-tindakan Anda dipengaruhi rasa takut dalam diri Anda.” Arthur Koestler (1905–1938), jurnalis dan kritikus asal Inggris”

  • Christopher Fry

    “Dalam tragedi, Inilah 1001 Pesan dan motivasi Para Tokoh Dunia
    • Napoleon Bonaparte
    “Persiapan yang berlebihan adalah musuh inspirasi.” Napoleon Bonaparte (1769–1821), jenderal, politikus dan kaisar Prancis (1804–14)
    • William Shakespeare
    “Waktu adalah keadilan yang menguji mereka yang bersalah.” William Shakespeare (1564–1616), pujangga dan dramawan Inggris”
    • Carl Jung
    “Pertemuan dua kepribadian adalah seperti kontak dua substansi kimia: jika ada reaksi, keduanya akan bertransformasi.” Carl Jung (1875–1961), penemu analisis psikologi”
    • Lawrence Clark Powell
    “Menulislah agar dipahami, berbicaralah agar didengar, dan membacalah agar menjadi besar.” Lawrence Clark Powell (1906–2001), pustakawan, penulis, dan kritikus Amerika Serikat”
    • Herbert Spencer
    “Orang bijak harus ingat bahwa dia adalah keturunan masa lalu sekaligus orang tua bagi masa depan.” Herbert Spencer (1820–1903), filsuf sosial asal Inggris”
    • Adam Smith
    “Apa yang bisa ditambahkan kepada orang yang berbahagia, sehat, bebas utang, serta memiliki hati nurani yang bersih?”Adam Smith (1723-1790), filsuf dan ekonom asal Skotlandia”
    • Edward G Bulwer-Lytton
    “Lebih baik punya lima musuh yang energik dan kompeten daripada seorang kawan yang bodoh.” Edward G Bulwer-Lytton (1803-1873), politikus dan kritikus Inggris”
    • Ronaldo
    “Saya tidak pernah berharap diri saya menjadi pemain terbaik dunia. Saya tidak terobsesi dengan penghargaan individu. Saya lebih tertarik menjadi bagian dari sebuah tim yang memenangkan trofi.” Ronaldo, pemain sepak bola asal Brasil”
    • Nido Qubein
    “Pemenang membandingkan prestasinya dengan tujuan mereka, sedangkan pecundang membandingkan prestasinya dengan capaian orang lain.” Nido Qubein, motivator Amerika Serikat”
    • Henri Bergson
    “Untuk eksis harus berubah, untuk berubah harus matang, matang berarti penciptaan diri tanpa henti.” Henri Bergson (1859–1941), filsuf Prancis, peraih Nobel Sastra 1927″
    • Franz Kafka
    “Mulailah dengan apa yang benar, bukan dengan apa yang bisa diterima.” Franz Kafka (1883–1924), penulis Jerman”
    • Robert A Schumann
    “Si talenta bekerja, sang jenius yang menciptakan.” Robert A Schumann (1810–1856), komposer Jerman”
    • Robert T Kiyosaki
    “Sebesar apa sukses Anda diukur dari seberapa kuat keinginan Anda, seberapa besar mimpi-mimpi Anda, bagaimana pula Anda mampu mengatasi kekecewaan dalam hidup Anda.” Robert T Kiyosaki, motivator dan penulis asal Amerika Serikat”
    • Benjamin Franklin
    “Berbuatlah kebaikan terhadap temanmu untuk menjaga mereka dan terhadap lawanmu untuk mengalahkan mereka.” Benjamin Franklin, filsuf dan negarawan Amerika Serikat”
    • Alexis de Tocqueville
    “Ada dua hal yang sangat sulit ditemukan oleh orang-orang penganut paham demokrasi: memulai perang dan mengakhirinya.” Alexis de Tocqueville (1805–1859), sejarawan Prancis”
    • Jawaharlal Nehru
    “Budaya akan memperluas pikiran dan semangat kita.” Jawaharlal Nehru (1889–1964), perdana menteri India”
    • Pythagoras
    “Jangan katakan hal-hal kecil dengan banyak kata-kata, tapi katakanlah sesuatu yang besar dengan sedikit kata.” Pythagoras (580–500 SM), filsuf dan ahli matematika Yunani”
    • Percy Bysshe Shelley
    “Janganlah takut menghadapi masa depan, jangan pula menangis untuk masa lalumu.” Percy Bysshe Shelley (1792–1822), pujangga asal Inggris”
    • Harrison Ford
    “Kita semua memiliki perubahan besar dalam hidup yang kurang lebih seperti kesempatan kedua.” Harrison Ford, aktor Hollywood, Amerika Serikat”
    • Thomas Carlyle
    “Daya tahan adalah kumpulan kesabaran.” Thomas Carlyle (1795–1881), sejarawan Skotlandia”
    • Oscar Wilde
    “Pengalaman adalah nama yang kita berikan untuk kesalahankesalahan di masa lalu.” Oscar Wilde, novelis Irlandia (1854–1900)”
    • Andre Gide
    “Manusia tak bisa menemukan samudera baru sepanjang dia tidak punya keberanian untuk memalingkan pandangan matanya dari pantai.” Andre Gide (1869–1951), penulis Prancis, peraih Nobel Sastra 1947″
    • Otto von Bismarck
    “Orang-orang hebat bisa dikenali melalui tiga hal: murah hati dalam perencanaan, humanis dalam pelaksanaan, dan tidak berlebihan dalam keberhasilan.” Otto von Bismarck (1815–1898), kanselir Jerman”
    • GK Chesterton
    “Ini bukan karena mereka tidak bisa menemukan solusi, tapi karena mereka tidak mampu memahami masalah.” GK Chesterton (1874–1936), kritikus Inggris”
    • CS Lewis
    “Anda tak boleh merasa terlalu tua untuk menetapkan tujuan lain atau merajut mimpi-mimpi baru.” CS Lewis (1898–1963), novelis dan ilmuwan Inggris”
    • Richard Bach
    “Tidak ada bencana yang tidak bisa menjadi berkah dan tidak ada berkah yang tidak bisa menjadi bencana.” Richard Bach , sastrawan Amerika Serikat”
    • Nancy Willard
    “Terkadang pertanyaan lebih penting daripada jawaban.” Nancy Willard, penulis dan pujangga Amerika Serikat”
    • Voltaire
    “Tidak ada orang besar yang tidak menyumbangkan kebesaran pengabdiannya kepada kemanusiaan.” Voltaire (1694–1778), filsuf dan penulis Prancis”
    • Ashleigh Brilliant
    “Ide yang bagus sudah umum, yang tidak umum adalah mereka yang bekerja keras untuk mewujudkan ide tersebut.” Ashleigh Brilliant (1933), pengarang dan kartunis asal Inggris”
    • Carl Gustav Jung
    “Satu-satunya hal yang harus kita takuti di planet ini adalah manusia.” Carl Gustav Jung (1875–1961), psikolog Swiss”
    • Arthur Koestler
    “Keberanian tak pernah membiarkan tindakan-tindakan Anda dipengaruhi rasa takut dalam diri Anda.” Arthur Koestler (1905–1938), jurnalis dan kritikus asal Inggris”
    • Christopher Fry
    “Dalam tragedi, setiap momen adalah keabadian; dalam komedi, keabadian adalah sebuah momen.” Christopher Fry (1907–2005), penulis Inggris”
    • Paulo Coelho
    “Tak seorang pun bisa berdusta, tak seorang pun bisa menyembunyikan sesuatu ketika dia menatap langsung ke mata seseorang.” Paulo Coelho, penulis kenamaan asal Brasil
    • Benjamin Franklin
    “Uang belum pernah dan tak akan pernah membuat manusia bahagia. Makin banyak orang punya uang, makin banyak lagi yang dia inginkan. Uang membuat orang terus-menerus mengisi sesuatu yang kosong.” Benjamin Franklin (1706–1790), ilmuwan, filsuf, dan penemu asal AS”
    • Herbert Hoover
    “Kompetisi bukan hanya berdasarkan perlindungan terhadap konsumen, tapi semangat untuk kemajuan.” Herbert Hoover (1874–1964), Presiden Amerika Serikat”

Kasih Mu tak sebatas usiaku.
Gak pernah terbayang bagaimana saya menghadapi masa depan, sejak usia menginjak 12 tahun.  Woou ..berarti hampir setengah abad silam . Aku  perempuan desa yang kehilangan kasih sayang ibunda , yang harus berjuang melanjutkan cita cita dengan seribu satu macam tantangan dan masalah. Hizrah dari Porsea Kabupaten Tobasa , menuju kota Metropolitan , tanpa bekal uang dan keterampilan yang memadai.
Tujuanku memang jelas, ke rumah tanteku, adek ibu yang belum perneh kulihat wajahnya sejak aku dilahirkan, cuma pernah dengan ceritanya.
Gak pernah juga terbayang bagaimana saya membesarkan anak anakku , sejak pernikahanku menginjak usia enam tahun, itu tepatnya tiga puluh tahun yang silam,  Ibu muda dengan tiga orang anak balita , yang harus merawat suami yang terkena penyakit batu ginjal dan infeksi hepatitis ,di PHK oleh perusahaan tempat nya bekerja.  Harapanku selalu optimis!Hari ini masih bisa kami lalui , suara tawa dan nyanyian merdu masih berkumandang, Gereja tempat yang tak pernah kutinggalkan sebagai tempat pelayanan dan pembelajaran anak anakku.
Gak pernah lagi terpikirkan bagaimana memiliki rumah yang layak, memberikan menu gizi yang seimbang, sandang yang sesuai perkembangan zaman, bahkan alat transportasi serta biaya pendidikan anak anakku.
Untuk apa dipikirkan?
Apa gunanya diceritakan?
Siapa yang tertarik mendengar, atau membaca kisah seperti ini?
Terus ... apa , bagaimana,akhirnya?
Umur terus bertambah, matematika manusia tidak dapat menjumlahkan  biaya hidup dan sumber biaya itu. Inilah yang menjadi tema pembelajaran untuk anak anakku. "Jangan khawatir" jalani saja, syukuri dan turuti apa yang aku pesankan.
Gak usah dijelaskan , empat tahun sejak suami " non job" lahir putra bungsu , kuberi nama Goklas Sotarduga = Sukacita penuh, itu yang tidak terduga! Dua pasang buah cinta kami,  Tuhan berikan menjadi tanggung jawab keluarga ku.
Mereka bertumbuh dalam kasih,  meski pun masa kanak kanak mereka tidak tergolong  penuh bahagia. Masa remaja mereka pun kurang bahagia , bila dibanding dengan sebaya mereka, kelompok   anak paduan suara anak Indonesia (PSAI) , yang memberi peluang mereka menjelajahi dunia, Asia, Eropah, bahkan sampai Amerika.
Luar biasa kasih Tuhan!
Kini usiaku menjelng enampuluh dua tahun, tepatnya besok 16 Agustus  pukul 8.45 , menurut cerita ibunda ketika aku masih usia balita .
Suami, anak anakku dan keluarga besar mungkin tidak pernh merenungkan perjalanan hidupku. Hadiah ulang tahun  tidak kuharapkan dari mereka semua. Yang aku harapkan hanyalah " Sukacita mereka semua mensyukuri apa yang telah kami lalui , kami terima dan akan jalani.
Gak ada gunanya menyesali, mengapa pola pengasuhan yang saya terapkan begini dan begitu, namun aku sungguh mendambakan agar anak anakku mampu memilih sikap hidup yang berkenan di tengah keluarga dan masyarakat. Berkenan di mata Tuhan tercermin dari  hidup kita dan  hubungan personal dengan sesama   manusia , sanak saudara, menghargai budaya , bahasa dan adat istiadat yang dpat memuliakan Tuhan.
Kini , besok dan hari hari selanjutnya , saya terus berdoa dan berpengharapan, "semuanya indah pada waktunya"
UntukMu Tuhan, aku bermohon, ampunkan aku jika pola asuhyang kuberikan kepada anak anakku  tidak berkenan kepada Mu, Kuatkan hambaMu, jika harapan yang kuminta kepada anak anakku kurang berterima di mata mereka, Selalu kudoakan agar kami orangtua  bijaksana membimbing mereka, walau sudah  matang usia mereka, Kharisma dan budi pekerti yang kami tanamkan Engkau yang memberkatinya.
Terima kasih Tuhan!

Selasa, 11 Desember 2012



Dear teman-teman sekolah rumah, berikut ini saya lampirkan artikel menarik
tentang bagaimana balita belajar mandiri, silahkan membaca...

Sudah Saatnya Ia Mandiri

Berapa usia si kecil Anda saat ini? Apakah ia sudah memasuki usia 1-3
tahun? Usia yang kita sebut sedang ‘lucu-lucunya’, karena ia mulai dapat
berjalan, mulai bereksplorasi dan mulai juga dapat berbicara.

Banyak
anak juga yang mulai bersekolah pada usia ini. Kedua anak saya pun,
mulai bersekolah pada waktu mereka berusia 1 tahun. Apakah ia memang
perlu bersekolah? Bersekolahnya sendiri sebenarnya tidak apa-apa,
tergantung dari apa yang dipelajari di sekolah tersebut. Bila sekolah
lebih menekankan pada kemampuan motorik kasar, seperti berjalan,
berlari, melompat, menyanyi, menari, tentu akan membantu perkembangan
anak.

Namun
sebenarnya, ada hal yang jauh lebih penting pada masa ini, yang harus
diselesaikan oleh anak-anak. Cobalah anda alami, si kecil kita, yang
berusia 1.5 tahun, biasanya ingin sekali makan sendiri. Mungkin ia senang duduk
dipangkuan kita dan mengambil makanan sendiri dari piringnya. Bila
keinginan ini dilarang terus menerus, keinginannya untuk makan sendiri
akan hilang dan akhirnya sampai SD pun ia masih harus disuapi agar mau
makan.

Anak
kita, yang sudah berusia 1-3 tahun memang mulai ingin mengerjakan
semuanya sendiri. Mungkin ia bahkan sekarang sedang belajar untuk
memakai sepatu sendiri. Parasnya tampak amat senang saat ia berhasil
memasukkan sepatu ke dua kaki kecilnya.

Menurut Erik Erikson, di usia ini, tugas anak yang paling penting adalah membina
kemandiriannya. Ia sedang mengalami masa Autonomy VS Shame or Doubt.
Ia memang ingin belajar mengenali kemampuan dirinya sendiri melalui
hal-hal yang dapat ia kerjakan sendiri. Bila berhasil, anak akan tumbuh
menjadi anak yang mempunyai rasa self esteem yang baik. Dan ini adalah
dasar-dasar dari rasa percaya diri.

Banyak
orang tua yang mengikutkan anak pada berbagai lomba, untuk meningkatkan
percaya diri anak. Namun pernahkah anda perhatikan, ada berapa orang
yang mengikuti lomba tersebut dan berapa besar kesempatannya untuk
menang? Rasa
percaya diri terpupuk dari pengalaman keberhasilan yang kecil-kecil, dan
yang terpenting adalah pujian kita saat anak berhasil melakukan sesuatu
sendiri.

Bila masa ini gagal, anak akan tumbuh menjadi seseorang yang pemalu atau
ragu-ragu.
Ia akan selalu bertanya-tanya, apakah ia mampu melakukan sesuatu. Ini
yang belakangan sering saya temui pada klien saya. Mereka anak-anak SD
atau SMP yang pandai, ber IQ tinggi, tapi sangat tidak PD dalam
mengerjakan sesuatu dan tidak mau berusaha.

Ini terjadi karena mereka tidak pernah diberikan kesempatan untuk melakukan
sesuatu di rumah. Mereka
tidak diperbolehkan melakukan sesuatu yang kecil, dengan kemungkinan
keberhasilan yang besar, seperti makan sendiri, mandi sendiri,
membereskan permainan sendiri, dll, namun dituntut untuk melakukan hal
yang besar, seperti bisa membaca, menulis, berhitung, tampil di depan
umum dan melakukan hal-hal ‘hebat’ lainnya.

Apakah
kemandirian bisa membuat kita menjadi melupakan orang lain dan
menganggap kita bisa melakukan segala sesuatunya sendiri? Sama sekali
tidak. Seseorang yang mandiri dan mempunyai self esteem yang baik, biasanya
justru tahu, apa yang bisa ia kerjakan sendiri dan kapan ia harus minta bantuan
orang lain. Selalu ada saat yang tepat untuk belajar, dan untuk usia ini,
kemandirian adalah fokus belajarnya.

Sumber : ROSDIANA SETYANINGRUM

Sekitar balita kitaDear teman-teman sekolah rumah, berikut ini saya lampirkan artikel menarik tentang bagaimana balita belajar mandiri, silahkan membaca... Sudah Saatnya Ia Mandiri Berapa usia si kecil Anda saat ini? Apakah ia sudah memasuki usia 1-3 tahun? Usia yang kita sebut sedang ‘lucu-lucunya’, karena ia mulai dapat berjalan, mulai bereksplorasi dan mulai juga dapat berbicara. Banyak anak juga yang mulai bersekolah pada usia ini. Kedua anak saya pun, mulai bersekolah pada waktu mereka berusia 1 tahun. Apakah ia memang perlu bersekolah? Bersekolahnya sendiri sebenarnya tidak apa-apa, tergantung dari apa yang dipelajari di sekolah tersebut. Bila sekolah lebih menekankan pada kemampuan motorik kasar, seperti berjalan, berlari, melompat, menyanyi, menari, tentu akan membantu perkembangan anak. Namun sebenarnya, ada hal yang jauh lebih penting pada masa ini, yang harus diselesaikan oleh anak-anak. Cobalah anda alami, si kecil kita, yang berusia 1.5 tahun, biasanya ingin sekali makan sendiri. Mungkin ia senang duduk dipangkuan kita dan mengambil makanan sendiri dari piringnya. Bila keinginan ini dilarang terus menerus, keinginannya untuk makan sendiri akan hilang dan akhirnya sampai SD pun ia masih harus disuapi agar mau makan. Anak kita, yang sudah berusia 1-3 tahun memang mulai ingin mengerjakan semuanya sendiri. Mungkin ia bahkan sekarang sedang belajar untuk memakai sepatu sendiri. Parasnya tampak amat senang saat ia berhasil memasukkan sepatu ke dua kaki kecilnya. Menurut Erik Erikson, di usia ini, tugas anak yang paling penting adalah membina kemandiriannya. Ia sedang mengalami masa Autonomy VS Shame or Doubt. Ia memang ingin belajar mengenali kemampuan dirinya sendiri melalui hal-hal yang dapat ia kerjakan sendiri. Bila berhasil, anak akan tumbuh menjadi anak yang mempunyai rasa self esteem yang baik. Dan ini adalah dasar-dasar dari rasa percaya diri. Banyak orang tua yang mengikutkan anak pada berbagai lomba, untuk meningkatkan percaya diri anak. Namun pernahkah anda perhatikan, ada berapa orang yang mengikuti lomba tersebut dan berapa besar kesempatannya untuk menang? Rasa percaya diri terpupuk dari pengalaman keberhasilan yang kecil-kecil, dan yang terpenting adalah pujian kita saat anak berhasil melakukan sesuatu sendiri. Bila masa ini gagal, anak akan tumbuh menjadi seseorang yang pemalu atau ragu-ragu. Ia akan selalu bertanya-tanya, apakah ia mampu melakukan sesuatu. Ini yang belakangan sering saya temui pada klien saya. Mereka anak-anak SD atau SMP yang pandai, ber IQ tinggi, tapi sangat tidak PD dalam mengerjakan sesuatu dan tidak mau berusaha. Ini terjadi karena mereka tidak pernah diberikan kesempatan untuk melakukan sesuatu di rumah. Mereka tidak diperbolehkan melakukan sesuatu yang kecil, dengan kemungkinan keberhasilan yang besar, seperti makan sendiri, mandi sendiri, membereskan permainan sendiri, dll, namun dituntut untuk melakukan hal yang besar, seperti bisa membaca, menulis, berhitung, tampil di depan umum dan melakukan hal-hal ‘hebat’ lainnya. Apakah kemandirian bisa membuat kita menjadi melupakan orang lain dan menganggap kita bisa melakukan segala sesuatunya sendiri? Sama sekali tidak. Seseorang yang mandiri dan mempunyai self esteem yang baik, biasanya justru tahu, apa yang bisa ia kerjakan sendiri dan kapan ia harus minta bantuan orang lain. Selalu ada saat yang tepat untuk belajar, dan untuk usia ini, kemandirian adalah fokus belajarnya. Sumber : ROSDIANA SETYANINGRUM



Dear teman-teman sekolah rumah, berikut ini saya lampirkan artikel menarik
tentang bagaimana balita belajar mandiri, silahkan membaca...

Sudah Saatnya Ia Mandiri

Berapa usia si kecil Anda saat ini? Apakah ia sudah memasuki usia 1-3
tahun? Usia yang kita sebut sedang ‘lucu-lucunya’, karena ia mulai dapat
berjalan, mulai bereksplorasi dan mulai juga dapat berbicara.

Banyak
anak juga yang mulai bersekolah pada usia ini. Kedua anak saya pun,
mulai bersekolah pada waktu mereka berusia 1 tahun. Apakah ia memang
perlu bersekolah? Bersekolahnya sendiri sebenarnya tidak apa-apa,
tergantung dari apa yang dipelajari di sekolah tersebut. Bila sekolah
lebih menekankan pada kemampuan motorik kasar, seperti berjalan,
berlari, melompat, menyanyi, menari, tentu akan membantu perkembangan
anak.

Namun
sebenarnya, ada hal yang jauh lebih penting pada masa ini, yang harus
diselesaikan oleh anak-anak. Cobalah anda alami, si kecil kita, yang
berusia 1.5 tahun, biasanya ingin sekali makan sendiri. Mungkin ia senang duduk
dipangkuan kita dan mengambil makanan sendiri dari piringnya. Bila
keinginan ini dilarang terus menerus, keinginannya untuk makan sendiri
akan hilang dan akhirnya sampai SD pun ia masih harus disuapi agar mau
makan.

Anak
kita, yang sudah berusia 1-3 tahun memang mulai ingin mengerjakan
semuanya sendiri. Mungkin ia bahkan sekarang sedang belajar untuk
memakai sepatu sendiri. Parasnya tampak amat senang saat ia berhasil
memasukkan sepatu ke dua kaki kecilnya.

Menurut Erik Erikson, di usia ini, tugas anak yang paling penting adalah membina
kemandiriannya. Ia sedang mengalami masa Autonomy VS Shame or Doubt.
Ia memang ingin belajar mengenali kemampuan dirinya sendiri melalui
hal-hal yang dapat ia kerjakan sendiri. Bila berhasil, anak akan tumbuh
menjadi anak yang mempunyai rasa self esteem yang baik. Dan ini adalah
dasar-dasar dari rasa percaya diri.

Banyak
orang tua yang mengikutkan anak pada berbagai lomba, untuk meningkatkan
percaya diri anak. Namun pernahkah anda perhatikan, ada berapa orang
yang mengikuti lomba tersebut dan berapa besar kesempatannya untuk
menang? Rasa
percaya diri terpupuk dari pengalaman keberhasilan yang kecil-kecil, dan
yang terpenting adalah pujian kita saat anak berhasil melakukan sesuatu
sendiri.

Bila masa ini gagal, anak akan tumbuh menjadi seseorang yang pemalu atau
ragu-ragu.
Ia akan selalu bertanya-tanya, apakah ia mampu melakukan sesuatu. Ini
yang belakangan sering saya temui pada klien saya. Mereka anak-anak SD
atau SMP yang pandai, ber IQ tinggi, tapi sangat tidak PD dalam
mengerjakan sesuatu dan tidak mau berusaha.

Ini terjadi karena mereka tidak pernah diberikan kesempatan untuk melakukan
sesuatu di rumah. Mereka
tidak diperbolehkan melakukan sesuatu yang kecil, dengan kemungkinan
keberhasilan yang besar, seperti makan sendiri, mandi sendiri,
membereskan permainan sendiri, dll, namun dituntut untuk melakukan hal
yang besar, seperti bisa membaca, menulis, berhitung, tampil di depan
umum dan melakukan hal-hal ‘hebat’ lainnya.

Apakah
kemandirian bisa membuat kita menjadi melupakan orang lain dan
menganggap kita bisa melakukan segala sesuatunya sendiri? Sama sekali
tidak. Seseorang yang mandiri dan mempunyai self esteem yang baik, biasanya
justru tahu, apa yang bisa ia kerjakan sendiri dan kapan ia harus minta bantuan
orang lain. Selalu ada saat yang tepat untuk belajar, dan untuk usia ini,
kemandirian adalah fokus belajarnya.

Sumber : ROSDIANA SETYANINGRUM

Kamis, 13 Oktober 2011

Renald Khasali menulis tentang Pendidikan di Indonesia


Benarkah Makin Berat, Makin Hebat?
oleh Rhenald Kasali*)

Sebagian besar pembaca mungkin dibesarkan dalam kultur ekonomi sulit, sehingga  kaya berbagai peribahasa, seperti: hemat pangkal kaya dan rajin pangkal pandai.
Kita bermain layang-layang, menangkap belut,bermain bersama anak-anak kampung
dengan tiada henti canda, tawa,dan keringat.

Bagaimana anak-anak sekarang? Lahan kosong berganti menjadi kebun sawit atau
perumahan mewah.Tak ada lagi lapangan badminton, arena bermain layang-layang dan
air yang mengalir bening. Tapi anak-anak punya mainan baru, Facebook,Twitter,Online Games, warung internet,dan bimbingan belajar.

Pergaulan fisik diganti dunia maya, statistik, dan ilmu berhitung diganti
kalkulator dan software. Dulu kita hanya belajar sembilan mata pelajaran,
sehingga masih banyak waktu untuk bermain. Bagaimana anakanak kita? Bukannya
dikurangi, melainkan semakin hari yang dipaksakan masuk ke dalam otak anak-anak
kita semakin banyak.

Sementara di Selandia Baru dan banyak negara maju anak anak sekolah hanya
mengambil enam mata pelajaran. Ketika mereka menganut spirit ”The Power of
Simplicity”, kita justru tenggelam dalam spirit benang kusut, ”kalau terlalu
mudah, tidak akan melahirkan kehebatan”.

Bukan hanya itu, di banyak negara, selain dirampingkan, mata ajar wajib juga
dibatasi hanya dua, selebihnya dijadikan pilihan yang dikaitkan karier.
Bagaimana di sini? Mata ajar yang banyak itu adalah mata ajar yang ”sakral”,
wajib diambil semuanya. Kesakralan itu sesungguhnya hanya semu, karena mata ajar
agama disamakan dengan berhitung dan sejarah ala kita, yaitu ala hafal-hafalan.

Ubah Cara Pandang

Namun, sewaktu saya bercerita bagaimana sekolah di Belanda, China, dan Selandia
baru,ada juga orangtua yang protes. Mereka tak menginginkan sekolahnya dibuat lebih
mudah. ”Sekolah itu memang harus sulit dan anak-anak harus berjuang”. Saya dapat
mengerti pandangan ini, karena anaknya termasuk cerdas, tuntas semua mata
pelajaran dengan nilai tinggi.

Namun, saya kurang mengerti bagaimana orang tua rela menyita seluruh waktu masa
muda anaknya hanya untuk belajar. Mendidik bukanlah untuk melahirkan orang-orang
yang tahu semua, tapi selalu bertanya, ”Saya harus melakukan apa?” Ini adalah
realita, semakin banyak ditemui orang tak bisa bekerja dengan prioritas.

Saya juga kurang mengerti kalau pendidik kurang memahami bahwa talenta dan
leadership merupakan kunci untuk mencapai keberhasilan hidup.Untuk itulah,
talenta harus diasah, diberi ruang,dan waktu agar ia tumbuh.Leadership maupun
entrepreneurship diasah dari keseharian di luar bangku sekolah. Diuji dalam
interaksi kehidupan.

Tentu saya bertanya-tanya kalau pendidikan kita dibuat lebih ramping, apakah
benar menjadi lebih baik.Saya selalu teringat masa-masa memulai karier sebagai
penguji di program S-3.Saat seorang tua,kandidat doktor diuji, yang mengajukan
pertanyaan ada 13 orang hebat.

Namanya juga orang hebat, pertanyaannya pasti sulit bagi seorang pemula. Tetapi
semua penguji tidak puas, kandidat digoreng ke kiri, di-ongseng ke kanan hingga
nyaris hangus. Di ruang rapat semua menyatakan tidak puas.Sebagai doktor muda
yang baru kembali dari sekolah doktor, saya tak punya suara yang berarti. Saya
hanya bertanya, ”Beginikah cara Bapak-Bapak menguji seorang calon doktor?”

Semua orang terdiam, dan saya pun terkejut dengan pertanyaan saya. Beberapa
orang menatap tajam, karena mereka adalah mantan guru-guru saya dan terkenal di
hadapan publik.Karena malu telah berkata- kata bodoh,saya teruskan saja berkata
jujur. Saya katakan kita harus percaya diri.

Ujian dengan penguji sebanyak ini menunjukkan kita kurang pede.Lagi pula tak ada
yang bisa lulus dengan ujian seperti ini.Semua dosen hanya marah-marah karena
kepintarannya tak dimengerti orang lain, dan memberi saran yang saling
bertentangan. Saya pun mengatakan,andaikan saya yang diuji di sini, saya
beranij amin saya pun tidak akan lulus.

Pertanyaan ujian terlalu luas.Di Amerika Serikat,kita hanya diuji oleh empat
orang pembimbing, dan bila kita bingung, kita tidak dibantai, malah dibantu. Di
SLTA negara-negara maju,jumlah mata ajar memang ramping,tetapi sejak remaja mereka
sudah biasa membuat makalah dengan kedalaman referensi dan terbiasa bekerja
dengan metode ilmiah.

Demikianlah persekolahan kita. Bukannya disederhanakan, justru dibuat menjadi
lebih kompleks. Semua mata ajar kita anggap sakral. Buku ditambah. Subjek
ditambah. Guru juga ditambah. Saya kadang tak habis berpikir, bagaimana kita
bisa menghasilkan kehebatan dari keribetan ini.

Saya tentu tak akan protes kalau dengan sekolah yang ditempa kesulitan ini, kita
bisa pergi ke bulan. Fakta menunjukkan sebaliknya. Tidakkah kita bertanya,
jangan-jangan ada yang tidak beres dengan kurikulum persekolahan kita? Saya juga
bertanya-tanya, akankah anak-anak dididik dengan baik kalau hanya belajar enam
mata pelajaran seperti di Selandia Baru, Denmark, atau negara-negara industri
lainnya?

Namun, fakta yang saya temui ternyata pendidikan yang hanya fokus pada enam mata
pelajaran itu menempatkan pendidikan Selandia Baru terbaik keenam di dunia.Rasanya
di sana juga tak ada siswa yang kesurupan saat ujian, apalagi contekan massal.
Perlukah kita meremajakan cara berpikir kita?


*) RHENALD KASALI Ketua Program MM UI