Kamis, 13 Oktober 2011

Renald Khasali menulis tentang Pendidikan di Indonesia


Benarkah Makin Berat, Makin Hebat?
oleh Rhenald Kasali*)

Sebagian besar pembaca mungkin dibesarkan dalam kultur ekonomi sulit, sehingga  kaya berbagai peribahasa, seperti: hemat pangkal kaya dan rajin pangkal pandai.
Kita bermain layang-layang, menangkap belut,bermain bersama anak-anak kampung
dengan tiada henti canda, tawa,dan keringat.

Bagaimana anak-anak sekarang? Lahan kosong berganti menjadi kebun sawit atau
perumahan mewah.Tak ada lagi lapangan badminton, arena bermain layang-layang dan
air yang mengalir bening. Tapi anak-anak punya mainan baru, Facebook,Twitter,Online Games, warung internet,dan bimbingan belajar.

Pergaulan fisik diganti dunia maya, statistik, dan ilmu berhitung diganti
kalkulator dan software. Dulu kita hanya belajar sembilan mata pelajaran,
sehingga masih banyak waktu untuk bermain. Bagaimana anakanak kita? Bukannya
dikurangi, melainkan semakin hari yang dipaksakan masuk ke dalam otak anak-anak
kita semakin banyak.

Sementara di Selandia Baru dan banyak negara maju anak anak sekolah hanya
mengambil enam mata pelajaran. Ketika mereka menganut spirit ”The Power of
Simplicity”, kita justru tenggelam dalam spirit benang kusut, ”kalau terlalu
mudah, tidak akan melahirkan kehebatan”.

Bukan hanya itu, di banyak negara, selain dirampingkan, mata ajar wajib juga
dibatasi hanya dua, selebihnya dijadikan pilihan yang dikaitkan karier.
Bagaimana di sini? Mata ajar yang banyak itu adalah mata ajar yang ”sakral”,
wajib diambil semuanya. Kesakralan itu sesungguhnya hanya semu, karena mata ajar
agama disamakan dengan berhitung dan sejarah ala kita, yaitu ala hafal-hafalan.

Ubah Cara Pandang

Namun, sewaktu saya bercerita bagaimana sekolah di Belanda, China, dan Selandia
baru,ada juga orangtua yang protes. Mereka tak menginginkan sekolahnya dibuat lebih
mudah. ”Sekolah itu memang harus sulit dan anak-anak harus berjuang”. Saya dapat
mengerti pandangan ini, karena anaknya termasuk cerdas, tuntas semua mata
pelajaran dengan nilai tinggi.

Namun, saya kurang mengerti bagaimana orang tua rela menyita seluruh waktu masa
muda anaknya hanya untuk belajar. Mendidik bukanlah untuk melahirkan orang-orang
yang tahu semua, tapi selalu bertanya, ”Saya harus melakukan apa?” Ini adalah
realita, semakin banyak ditemui orang tak bisa bekerja dengan prioritas.

Saya juga kurang mengerti kalau pendidik kurang memahami bahwa talenta dan
leadership merupakan kunci untuk mencapai keberhasilan hidup.Untuk itulah,
talenta harus diasah, diberi ruang,dan waktu agar ia tumbuh.Leadership maupun
entrepreneurship diasah dari keseharian di luar bangku sekolah. Diuji dalam
interaksi kehidupan.

Tentu saya bertanya-tanya kalau pendidikan kita dibuat lebih ramping, apakah
benar menjadi lebih baik.Saya selalu teringat masa-masa memulai karier sebagai
penguji di program S-3.Saat seorang tua,kandidat doktor diuji, yang mengajukan
pertanyaan ada 13 orang hebat.

Namanya juga orang hebat, pertanyaannya pasti sulit bagi seorang pemula. Tetapi
semua penguji tidak puas, kandidat digoreng ke kiri, di-ongseng ke kanan hingga
nyaris hangus. Di ruang rapat semua menyatakan tidak puas.Sebagai doktor muda
yang baru kembali dari sekolah doktor, saya tak punya suara yang berarti. Saya
hanya bertanya, ”Beginikah cara Bapak-Bapak menguji seorang calon doktor?”

Semua orang terdiam, dan saya pun terkejut dengan pertanyaan saya. Beberapa
orang menatap tajam, karena mereka adalah mantan guru-guru saya dan terkenal di
hadapan publik.Karena malu telah berkata- kata bodoh,saya teruskan saja berkata
jujur. Saya katakan kita harus percaya diri.

Ujian dengan penguji sebanyak ini menunjukkan kita kurang pede.Lagi pula tak ada
yang bisa lulus dengan ujian seperti ini.Semua dosen hanya marah-marah karena
kepintarannya tak dimengerti orang lain, dan memberi saran yang saling
bertentangan. Saya pun mengatakan,andaikan saya yang diuji di sini, saya
beranij amin saya pun tidak akan lulus.

Pertanyaan ujian terlalu luas.Di Amerika Serikat,kita hanya diuji oleh empat
orang pembimbing, dan bila kita bingung, kita tidak dibantai, malah dibantu. Di
SLTA negara-negara maju,jumlah mata ajar memang ramping,tetapi sejak remaja mereka
sudah biasa membuat makalah dengan kedalaman referensi dan terbiasa bekerja
dengan metode ilmiah.

Demikianlah persekolahan kita. Bukannya disederhanakan, justru dibuat menjadi
lebih kompleks. Semua mata ajar kita anggap sakral. Buku ditambah. Subjek
ditambah. Guru juga ditambah. Saya kadang tak habis berpikir, bagaimana kita
bisa menghasilkan kehebatan dari keribetan ini.

Saya tentu tak akan protes kalau dengan sekolah yang ditempa kesulitan ini, kita
bisa pergi ke bulan. Fakta menunjukkan sebaliknya. Tidakkah kita bertanya,
jangan-jangan ada yang tidak beres dengan kurikulum persekolahan kita? Saya juga
bertanya-tanya, akankah anak-anak dididik dengan baik kalau hanya belajar enam
mata pelajaran seperti di Selandia Baru, Denmark, atau negara-negara industri
lainnya?

Namun, fakta yang saya temui ternyata pendidikan yang hanya fokus pada enam mata
pelajaran itu menempatkan pendidikan Selandia Baru terbaik keenam di dunia.Rasanya
di sana juga tak ada siswa yang kesurupan saat ujian, apalagi contekan massal.
Perlukah kita meremajakan cara berpikir kita?


*) RHENALD KASALI Ketua Program MM UI